TAFSIR SURAT AN-NAHL AYAT 125 DAN SURAT AL-AHZAB AYAT 2 IAI SUNAN GIRI

Posted on

MAKALAH
TAFSIR SURAT AN-NAHL AYAT 125 DAN SURAT AL-AHZAB AYAT 2
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi 


  


Dosen Pembimbing :
Hamidatun Nihayah, M.Th. I.

Disusun oleh :
1. Moh Abdul Haris (201955010104849)
2. M Ihsanur Rohim (201955010104774)
3. Titik Andriyani (201955010104801)
4. Almuhimmatul Atikah (201955010104783)
5. Dedi Aprilliswanto (201955010104972)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN GIRI BOJONEGORO
TAHUN 2020 


KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim, puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah pada mata kuliah Tafsir Tarbawi ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat serta pengikutnya. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang tafsir beberapa ayat al-Quran. Dengan terselesaikanya tugas ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Hamidatun Nihayah, M.Th. I selaku dosen pengampu MK Tafsir Tarbawi
2. Orang tua yang telah membiayai dan memberikan dukungan serta semangat kepada kami.
3. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya dan kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dimasa depan. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya.

                                                                                         Penyusun

Bojonegoro, 3 April 2020

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
2.1 Lafadz dan Terjemah Surat An-Nahl ayat 125 2
2.2 Arti An-Nahl ayat 125 Perkalimat Bahasa Indonesia 2
2.3 Kandungan Surat An-Nahl ayat 125 3
2.4 Penafsiran Surat An-Nahl ayat 125 3
2.4.1 Tafsir Jalalain 3
2.4.2 Tafsir Al Mishbah 3
2.4.3 Tafsir Muyassar 4
2.4.4 Tafsir Ibnu Katsir 4
2.5 Lafadz dan Terjemah Surat Al-Ahzab ayat 2 6
2.6 Arti Surat Al-Ahzab ayat 2 Perkalimat Bahasa Indonesia 6
2.7 Kandungan Surat Al-Ahzab ayat 2 7
2.8 Penafsiran Surat Al-Ahzab ayat 2 8
2.8.1 Tafsir Jalalain 8
2.8.2 Tafsir Al Mishbah 8
2.8.3 Tafsir Muyassar 8
2.8.4 Tafsir Ibnu Katsir 9
BAB III 10
PENUTUP 10
3.1 Kesimpulan 10
3.2 Saran 10
DAFTAR PUSTAKA 11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan dengan kebenaran mutlak yang menjadi sumber ajaran Islam. Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Ia berfungsi untuk  memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Al-Qur’an merupakan sumber keamanan, motivasi, dan inspirasi, sumber dari segala sumber hukum yang tidak pernah kering bagi yang mengimaninya.
Jika demikian itu halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an melalui penafsiran-penafsiran, memiliki peranan sangat besar bagi umat. Dalam makalah ini akan dibahas tentang tafsir Surat An-Nahl ayat 125 yang bertemakan hikmah dan tafsir Surat Al-Ahzab ayat 2 tentang kebenaran dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas, dapat dituliskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana lafadz dan terjemah Surat An-Nahl ayat 125?
2. Apa kandungan Surat An-Nahl ayat 125?
3. Bagaimana penafsiran Surat An-Nahl ayat 125?
4. Bagaimana lafadz dan terjemah Surat Al-Ahzab ayat 2?
5. Apa kandungan Surat Al-Ahzab ayat 2?
6. Bagaiamana penafsiran Surat Al-Ahzab ayat 2?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui lafadz dan terjemah Surat An-Nahl ayat 125?.
2. Untuk mengetahui kandungan Surat An-Nahl ayat 125?.
3. Untuk mengetahui penafsiran Surat An-Nahl ayat 125?.
4. Untuk mengetahui lafadz dan terjemah Surat Al-Ahzab ayat 2?.
5. Untuk mengetahui kandungan Surat Al-Ahzab ayat 2?
6. Untuk mengetahui penafsiran Surat Al-Ahzab ayat 2?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Lafadz dan Terjemah Surat An-Nahl ayat 125
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِوَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ.
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
2.2 Arti Surat An-Nahl ayat 125 Perkalimat Bahasa Indonesia
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبك
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu) Jalan Allah yakni agama Islam.
بالحمة
(dengan hikmah) Yakni dengan ucapan yang benar dan mengandung hikmah. Pendapat lain mengatakan, yakni dengan bukti-bukti yang menimbulkan keyakinan.
والموعضة حسنة
( dan pelajaran yang baik) Yakni ucapan yang baik dan indah bagi pendengarnya yang meresap ke dalam hati sehingga dapat meyakinkannya dan menjadikannya mau untuk mengamalkannya.
وجدل هم بالتي هي احسن
( dan bantahlah mereka dengan cara yang baik) Yakni dengan cara terbaik dalam berdebat.
إن ربك هواعلم بمن ضل عن سبيله
( Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya) Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa petunjuk dan hidayah bukan urusan Nabi namun urusan Allah semata.
وهواعلم بالمهتدين
(dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) Yakni orang-orang yang mencari kebenaran kemudian menerimanya tanpa keras kepala.
2.3 Kandungan Surat An-Nahl ayat 125
Berikut ini adalah isi kandungan Surat An-Nahl ayat 125:
1. Metode bil hikmah artinya bin-nash wal ‘aqli (menggunakan nash dan akal), Dakwah tetap mengacuh kepada nash (al-Qur’an dan Sunnah) tapi menggunakan akal dalam menentukan pemilihan terhadap nash mana yang akan disampaikan lebih dahulu (menyangkut tahapan dan silabi dakwah), bagaimana menyampaikannya (media dan cara yang digunakan) yang sesuai dengan keadaan sasaran dakwah.
2. Metode ma’uidhah hasanah yaitu berdakwah dengan nasehat-nasehat yang baik yang diungkapkan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat dan berdasarkan realitas kehidupan masyarakat yang dikemas dalam bahasa yang santun dan menyentuh hati masyarakat.
3. Metode berdebat yaitu berdakwah dengan cara berdebat, ini dilakukan terutama bagi kalangan intelektual atau orangorang terdidik yang berfikiran logis. Maka ajaran Islam harus bisa dijelaskan dengan argumentasi-argumentasi yang logis dan rasional. Islam menuntunkan hendaknyadalam berdebat itu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan penuh kesantuan tanpa ada tendensi menyerang lawan dialog. Tujuanya adalah menjelaskan kebenaran dan mencari kebenaran berdasarkan tuntunan Allah Swt.
2.4 Penafsiran Surat An-Nahl ayat 125
2.4.1 Tafsir Jalalain
(Serulah) manusia, hai Muhammad (kepada jalan Rabbmu) yakni agama-Nya (dengan hikmah) dengan Alquran (dan pelajaran yang baik) pelajaran yang baik atau nasihat yang lembut (dan bantahlah mereka dengan cara) bantahan (yang baik) seperti menyeru mereka untuk menyembah Allah dengan menampilkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Nya atau dengan hujah-hujah yang jelas. (Sesungguhnya Rabbmu Dialah Yang lebih mengetahui) Maha Mengetahui (tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) maka Dia membalas mereka; ayat ini diturunkan sebelum diperintahkan untuk memerangi orang-orang kafir. Dan diturunkan ketika Hamzah gugur dalam keadaan tercincang; ketika Nabi saw. melihat keadaan jenazahnya, lalu beliau saw. bersumpah melalui sabdanya, “Sungguh aku bersumpah akan membalas tujuh puluh orang dari mereka sebagai penggantimu.”
2.4.2 Tafsir Al Mishbah
Wahai Nabi, ajaklah manusia meniti jalan kebenaran yang diperintahkan oleh Tuhanmu. Pilihlah jalan dakwah terbaik yang sesuai dengan kondisi manusia. Ajaklah kaum cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi untuk berdialog dengan kata-kata bijak, sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kaum awam, ajaklah mereka dengan memberikan nasihat dan perumpamaan yang sesuai dengan taraf mereka sehingga mereka sampai kepada kebenaran melalui jalan terdekat yang paling cocok untuk mereka. Debatlah Ahl al-Kitab yang menganut agama-agama terdahulu dengan logika dan retorika yang halus, melalui perdebatan yang baik, lepas dari kekerasan dan umpatan agar mereka puas dan menerima dengan lapang dada. Itulah metode berdakwah yang benar kepada agama Allah sesuai dengan kecenderungan setiap manusia. Tempuhlah cara itu dalam menghadapi mereka. Sesudah itu serahkan urusan mereka pada Allah yang Maha Mengetahui siapa yang larut dalam kesesatan dan menjauhkan diri dari jalan keselamatan, dan siapa yang sehat jiwanya lalu mendapat petunjuk dan beriman dengan apa yang kamu bawa.
2.4.3 Tafsir Muyassar
Berdakwahlah, wahai Rasul, yakni Kami dan pengikutmu, kepada agama Rabbmu dan jalan-Nya yang lurus, dengan cara bijak yang Allah wahyukan kepadamu dalam al-Qur”an dan Sunnah. Berbicaralah kepada manusia dengan metode yang cocok bagi mereka, dan nasihatilah mereka dengan nasihat yang baik, menjadikan mereka senang dengan kebaikan dan membuat mereka menyingkir dari keburukan. Debatlah mereka dengan metode debat yang terbaik, yaitu santun dan lemah lembut. Karena tugasmu hanyalah menyampaikan, dan kamu telah menyampaikan. Adapun memberi hidayah kepada mereka, maka ini wewenang Allah semata. Dia lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
2.4.4 Tafsir Ibnu Katsir
Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw. agar menyeru umat manusia dengan penuh hikmah. Ibnu Jarir mengatakan: “Yaitu apa yang telah diturunkan kepada beliau berupa al-Qur’an dan as-Sunnah serta pelajaran yang baik, yang di dalamnya berwujud larangan dan berbagai peristiwa yang disebutkan agar mereka waspada terhadap siksa Allah Ta’ala.

Firman-Nya: wa jaadilHum bil latii Hiya ahsanu (“Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik,”) yakni, barangsiapa yang membutuhkan dialog dan tukar pikiran, maka hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, lemah lembut, serta tutur kata yang baik. Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dhalim di antara mereka,” dan ayat seterusnya. (QS. Al-‘Ankabuut: 46)

Dengan demikian, Allah Ta’ala memerintahkannya untuk berlemah lembut, sebagaimana yang Dia perintahkan kepada Musa as. dan Harun as. ketika Dia mengutus keduanya kepada Fir’aun, melalui firman-Nya: “Maka bicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lebut. Mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44)
Firman Allah Ta’ala: inna rabbaka Huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabiiliHii (“Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya,” )dan ayat seterusnya. Maksudnya, Dia mengetahui siapa yang sengsara dan siapa pula yang bahagia. Hal itu telah Dia tetapkan di sisi-Nya dan telah usai pemutusannya. Serulah mereka kepada Allah Ta’ala, janganlah kamu bersedih hati atas kesesatan orang-orang di antara mereka, sebab hidayah itu bukanlah urusanmu. Tugasmu hanyalah memberi peringatan dan menyampaikan risalah, dan perhitungan-Nya adalah tugas Kami.
2.5 Lafadz dan Terjemah Al-Ahzab ayat 2
وَٱتَّبِعْ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا.
Artinya :
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
2.6 Arti Surat Al-Ahzab ayat 2 Perkalimat Bahasa Indonesia
واتبع ما يوحى إليك من ربك
Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, (Al-Qur’an dan As-Sunnah).
إن الله كان بما تعملون خبيرا
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan(tidak ada sesuatupun dari perbuatan itu yang luput dari-Nya dan Dia akan membalas kalian atas perbuatan kalian).
2.7 Kandungan Surat Al-Ahzab ayat 2
Dalam surat Al-Ahzab ayat 2 menerangkan bahwa Allah SWT melarang kaum Muslimin memenuhi keinginan-keinginan orang-orang kafir itu, lalu Allah memerintahkan agar kaum Muslimin mengamalkan dan melaksanakan semua yang telah diwahyukan Tuhan, yaitu Alquran, yaitu dengan menjadikan isi Alquran sebagai pedoman dalam berbuat dari bertindak dan menentukan sikap dalam menetapkan pilihan. Yang sesuai dengan petunjuk Alquran tetap dilaksanakan, sedang yang tidak sesuai segera dihentikan dan dijauhi. Dengan demikian mereka akan hidup berbahagia, dan dakwah Islamiyah akan berhasil dengan gemilang, dan terhindarlah mereka dari segala kemungkinan menurut keinginan orang-orang kafir dun terhindar pula dari kemungkinan salah dalam memahami agama.
Kemudian Allah SWT memperingatkan bahwa Dia mengetahui segala yang diperbuat Nabi dan para sahabatnya; tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya, karena itu Dia akan memberikan balasan sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya dan akan mewahyukan kepada Muhammad saw segala yang diperlukannya, segala yang bermanfaat dalam menyampaikan risalah dan dalam membina masyarakat Islam.
2.8 Penafsiran Surat Al-Ahzab ayat 2
2.8.1 Tafsir Jalalain
(Dan ikutilah apa yang diwahyukan Rabbmu kepadamu) yaitu Alquran. (Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan) menurut suatu qiraat lafal ta’maluuna dibaca ya’maluuna.
2.8.2 Tafsir Al Mishbah
Ikutilah petunjuk wahyu yang diturunkan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah, yang menurunkan wahyu kepadamu, adalah Maha Memberitahu rincian-rincian perbuatanmu, perbuatan orang-orang kafir dan orang-orang munafik.
2.8.3 Tafsir Muyassar
Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Rabbmu, yakni al-Qur’an dan sunnah. Sesungguhnya Allah Mengetahui segala apa yang kalian perbuat dan membalas kalian atasnya, tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya.

2.8.4 Tafsir Ibnu Katsir
Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.
Perintah ini lahiriahnya ditujukan kepada orang yang berkedudukan tinggi (Nabi Saw.), tetapi makna yang dimaksud ditujukan kepada orang yang lebih rendah kedudukannya (umatnya). Karena sesungguhnya Allah Swt. itu apabila memerintahkan kepada hamba dan rasul-Nya dengan perintah ini, maka terlebih lagi kepada orang yang sebawahnya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Metode dakwah dalam surah An-Nahl ayat 125 dan surat Al-Ahzab ayat 2 terdapat tiga cara efektif, yakni
–   Dengan hikmah
–   Dengan pelajaran yang baik, dan
–  Dengan jalan debat yang tidak menimbulkan dampak tidak baik
Karena sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang kalian perbuat dan membalas kalian atasnya, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya dari perbuatan tersebut.

3.2 Saran
  Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan pembaca dapat menyampaikan kritik dan juga saran terhadap hal penulisan makalah kami.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahalli, Jalaluddin, Jalaluddin as-Suyuthi, Terjemah Tafsir Jalalain (pdf)
Al-Sheikh, DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta : Pustaka Imam Syafi’i, 2005 (pdf)
Al-Sheikh, Sholeh bin Abdulaziz bin Muhammad, Tafsir Muyassir, Madinah : 2013 (pdf)
Shihab, Muhammad Qurais, Tafsir Al-Misbah, (pdf)
https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_An-Nahl
http://sadchalis15.wordpress.com/tag/asbabun-nuzul-an-nahl-ayat-125/
https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *