Kamis, 02 Juli 2020

Canda Nabi Muhammad SAW Dalam Bentuk Tarkhim (Kalimat Awal/Akhir dari Nama Seseorang)


Canda Nabi Muhammad SAW Dalam Bentuk Tarkhim (Kalimat Awal/Akhir dari Nama Seseorang)

Tarkhim adalah penghilangan bagian akhir atau ujung nama seseorang untuk mempermudah pengucapan. Seperti ucapan Nabi Muhammad saw ketika memanggil ‘Aisyah r.a : “Hai, ‘Aisy”. Dalam ash-shahihain tercantum sebuah riwayat dari ‘Aisyah r.a  ia menuturkan: “Rasulullah saw berseru:
((يَا عَائْش هَذَا جِبْرِيْلُ يُقْرِئُكِ السلامَ))
“wahai ‘Aisy, ini Jibril. Ia menyampaikan ucapan salam kepadamu”.

Aku pun menjawab: “semoga salam (keselamatan) dan rahmat senantiasa tercurah kepadanya.” `Aisyah menambahkan: “Nabi saw melihat apa yang tidak bisa kita lihat.”

            Rasulullah saw juga melakukan hal serupa kepada Anjasah r.a, yaitu beliau memanggil sahabat ini dengan menghilangkan huruf akhir dari namanya: “Wahai Anjasy”. Dalam kitab shahih al-bukhori di sebuatkan sebuah riwayat dari Anas r.a, ia menceritakan: “ketika Ummu Sulaim menunggangi unta yang membawa perbekalan, sedangkan Anjasah yang merupakan pelayan Nabi saw menggiring unta mereka. Lantas Nabi saw berseru:
((يَا أَنْجَشْ رُوَيْدَكَ سَوْقًكَ بِالْقَوَارِيْرِ.))
“hai Anjasy, perlahanlah dalam menggiring bejana-bejana kaca yang mudah pecah”

            Bentuk tarkhim Nabi saw lainnya adalah perkataan beliau ketika memanggil Abu Hurairah: “Hai Abu Hirr!”. Sebagaimana di riwayatkan dari Mujahid r.a, bahwa Abu Hurairah r.a bercerita: “demi Allah yang tidak ada tuhan yang di sembah dengan sebenarnya selain Allah, sungguh aku pernah merebahkan perutku ke tanah karena lapar. Aku juga pernah mengganjal perutku dengan batu karena lapar. Aku pun pernah duduk seharian di jalan yang biasa di lalui Rasulullah saw dan para sahabat r.a (tatkala hendak ke masjid).

            Tidak lama kemudian Abu Bakar lewat, lalu aku bertanya kepadanya tentang satu ayat dari kitabullah. Tujuanku bertanya demikian tidak lain agar dia mengajakku ke rumahnya untuk dijamu. Akan tetapi, setelah menjawabnya Abu Bakarpergi dan tidak melakukan hal yang kuharapkan. Setelah itu Umar lewat. Aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat dari Kitabullah.

            Tujuanku bertanya demikian tidak lain agar dia mengajakku kerumahnya untuk dijamu. Akan tetapi, setelah menjawabnya Umar pergi dan tidak melakukan apa yang kuharapkan.

            Kemudian melintaslah Abul Qasim, Yaitu Rasulullah saw beliau tersenyum  tatkala melihatku, dan tampaknya beliau mengetahui isi hatiku (yang terpancar) dari wajahku. Kemudian berkata: “(يَا أَبَا هِرَّ)  “ hai Abu Hirr! Labbaik (aku memenuhi seruan engkau), wahai Rasulullah!, jawabku. “ikutlah bersamaku”, pinta beliau. Belaiu pun berjalan, dan aku pun mengikutinya. Setelah masuk ke rumahnya, aku meminta izin beliau untuk masuk, dan beliau mengizinkan. Lalu Rasulullah masuk dan mendapati segelas susu, maka beliau bertanya (kepada istrinya): “darimana susu ini”? mereka menjawab `Fulan atau perawi berkata: Fulan yang menghadiahkan untuk engkau`. Lantas Rasulullah saw berseru: “hai Abu Hirr!” “Labbaik wahai Rasulullah, `jawabku.` beliau kembali berseru: “temuilah ahlush shuffah (para sahabat yang tinggal di masjid Nabi saw) dan undanglah mereka kemari.

            Abu Hurairah melnjutkan: “Ahlush shuffah adalah tamu-tamu islam; karena mereka tidak memiliki keluarga, harta, dan tempat tinggal. Jika di beri sedekah, Nabi sawmengirimkannya kepada mereka tanpa mengambilnya sedikit pun. Tapi jika di beri hadiah, beliau mengambilsekadarnya sebelum dikirimkan kepada mereka. Dengan kata lain, beliau menyertakan mereka dalam menerima pemeberian tersebut. Hal inilah yang membuatku merasa gelisah, sehingga aku bergumam: “susu ini tidak akan cukup untuk ahlush shuffah. Aku lebih berhak terhadapnya, dan aku ingin meminumnya agar tubuhku bertenaga.” Seandainya orang-orang itu datang lalu beliau memerintahku agar mengedarkan susu tersebut kepada mereka (satu per satu), boleh jadi mereka tidak akan menyisakannya untukku. Namun disisi lain, aku harus mematuhi perintah Allah swt dan Rasul-Nya saw. Akhirnya, aku memutuskan untuk menemui dan memanggil mereka. Maka mereka mendatangi rumah Nabi saw. Sampainya di rumah beliau, mereka meminta izin untuk masuk, dan beliau mengizinkan mereka. Lalu mereka duduk di tempat dan posisi masing-masing.

            Kemudian Nabi memanggil: “hai Abu Hirr!” “labbaik wahai rasulullah”. Tanggapku. Beliau pun berseru: “ambilkan susunya dan berikan kepada mereka”. Aku langsung mengambil gelas yang berisi susu tadi lalu memebrikannya kepada seorang dari mereka. Orang itu meneguknya sampai kenyang lalu mengembalikan gelas itu kepadaku. Kemudian aku memberikannya kepada orang lain. Orang itu pun meneguknya sampai kenyang lalu mengembalikannya gelas itu kepadaku. Lantas aku memberikannya kepada orang setelahnya. Maka orang itu meneguknya hingga kenyang lalu mengembalikan gelas itu kepadaku.

            Demikianlah, hingga aku sampai kepada giliran Rasulullah saw yaitu setelah semua orang mereka kenyang. Nabi saw mengambil gelas tadi lalu meletakkannya di atas tangan, lalu beliau memandang ke arahku. Sambil tersenyum beliau berseru: “hai Aba Hirr!” aku menjawab “labbaika ya Rasulullah”. Beliaupun berujar: “tinggal aku dan kamu yang belum minum”. “benar wahai Rasulullah, “balasku. Lalu beliau berkata: “duduk dan minumlah!”. Aku pun duduk dan meminum susu itu. `minum lagi`! beliau kembali menyuruhku`. Aku pun meminumnya lagi, dan beliau          terus menyuruh: “minumlah, demi Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran. Perutku sudah tidak sanggup lagi”.

            Kemudian Nabi saw berkata: “berikan gelas itu kepadaku.” Aku memeberikan gelas itu kepada beliau. Maka beliau memuji Allah dan membaca basmalah, lantas meminum susu yang tersisa”.
Baca Juga: canda nabi muhammad saw kepada al-miqdad r.a


EmoticonEmoticon