Canda Nabi SAW Kepada Pelayannya,- Anas bin Malik r.a

Posted on

Canda Nabi SAW Kepada Pelayannya, Anas bin Malik r.a

Dari Anas bin Malik r.a, bahwa Rasulullah saw pernah berseru kepadanya:
يَا ذَا الأًذًنَيْنِ)
Hai yang memiliki dua telinga
https://www.google.com/search?q=anas+bin+malik&safe=strict&rlz
Gambar1 

Mahmud seorang perawi hadist ini, berkata: “Abu Usamah (gurunya) menuturkan bahwa Nabi saw bercanda kepada Anas bin Malik dengan perkataan tersebut.”
Al-Munawi r.a. menjelaskan: maksudnya adalah: `Hai pemilik dua telinga yang sangat telitidan tepat dalam pendengarannya`. Nabi memanggil Anas demikian sebagai pujian atas kecerdasan, kepandaian, dan penyimakannya yang baik. Sebab, siapa saja yang kedua telinganya tepat dalam pendengaran tentu  lebih berpeluang untuk bias menghafal dan memahami apa-apa yang di dengarnya. Jika dilihat dari sisi ini, perkataan Nabi saw tersebut tidak mengandung canda.

Adapun konteks canda yang yang disebutkan Usamah, salah seorang perowi hadist ini: `Nabi saw bercanda kepada Anas bin Malik dengan perkataan tersebut,`hal ini dilihat dari pemanggilan Anas bin Malik dengan selain nama aslinya, yaitu `yang mempunyai dua telinga (dzul-udzunaini). Demikian di antara bentuk canda dan keluhuran akhlak beliau.

Ali al-Qari r.a menerangkan: “ada yang berpendapat bahwa maknanya adalah anjuran agar mendengarkan secara seksama setiap perkataan yang disampaikan. Sebab, telinga adalah indra pendengar, dan siapa saja yang telah Allah anugrahkan dua telinga tetapi tidak mengoptimalkan pendengarannya sehingga lupa, maka kealpaannya tidak bias di tolerir. Ada yang berpendapat juga bahwa perkataan Nabi saw tersebut termasuk gurauan dan bentuk keluhuran akhlak beliau. Pendapat kedua inilah yang lebih tepat. Alasannya, saat ini Anas r.a baru berusia sepuluh tahundan belum lama membantu dan melayani kebutuhan beliau; dank arena itulah Nabi saw bercanda kepadanya. 

Maka kesimpulannya, Abu Usamah memaknai hadist ini sebagai salah satu bentuk canda Nabi saw. Adapun sisi candanya yaitu panggilan beliau kepada Anas r.a dengan nama selain nama sebenarnya. Sebab, sepintas menujukkan bahwa Anas r.a hanya memiliki dua telinga tanpa anggota tubuh yang lainnya. Bias jadi pula, Anas r.a di panggil demikian karena telinganya panjang, pendek, atau ada cacatnya, waAllahu A’lam.

Selain kisah tesebut, Anas r.a juga meriwayatkan kisah yang lain tentang canda Nabi saw kepadanya. Anas r.a menceritakan: “Rasulullah saw adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Pada suatu hari, beliau menyuruhku pergi ke suatu tempat untuk suatu keperluan. Namun aku berseru: `Demi Allah, aku tidak mau pergi!` hanya saja dalam hatiku, aku pasti akan pergi karena Nabi Allah swt telah memerintahku untuk itu. Lalu aku pergi hingga melintasi beberpa anak kecil yang sedang bermain di pasar (dan singgah sebentar disitu). 

Tak lama kemudian, Rasulullah saw memegang tengkukku dari belakang. Aku menoleh seketika. Ternyata beliau tersenyum seraya berkata: “Hai Unais (anak kecil) sudahkah kamu pergi ke tempat yang saya perintahkan?” “Baik! Aku akan pergi kesana sekarang, wahai Rasulullah,` jawabku sepontan.”
Perhatikanlah—semoga Allah merahmati Anda—Ketawadhu’an Nabi saw kepada pelayannya, Anas bin Malik r.a. beliau masih mau bercanda dan tidak mencelanya karena tidak bersegera pergi ke tempat yang di perintahkan. Lalu, bandingkanlah dengan kelakuan orang-orang yang berpangkat dan orang-oarng kaya pada zaman ini; mereka tidak menghiraukan orang-orang yang berkedudukan lebih rendah daripada mereka. Senyum mereka terasa begitu mahal untuk di berikan. Kesombongan membuat mereka enggan mengucapkan salam, apalagi sampai bercanda, hanya demi mempertahankan gengsi. Semoga Allah menyelamatkan kita dari keburukan yang demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *