Minggu, 23 Mei 2021

Cara Tepat Budidaya Cabai Merah dengan Hasil Melimpah

SEKILAS CABAI MERAH 

Tanaman cabai merah (Capsicum annuum) adalah tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan.

oleh kandungan kapsaisin. Tanaman cabai termasuk famili Solanaceae merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki banyak manfaat, dan bernilai ekonomi tinggi. 

Di Indonesia tanaman tersebut dibudidayakan sebagai tanaman semusim pada lahan bekas sawah dan lahan kering atau tegalan.

SYARAT  PERTUMBUHAN

  1. Tanaman cabai merah mempunyai daya adaptasi yang cukup luas, cocok dibudidayakan, baik di dataran rendah maupundataran tinggi, pada lahan sawah atau tegalan sampai ketinggian 1400 m di atas permukaan laut
  2. Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah 25-27 0C pada siang hari dan 18-20 0C pada malam hari.
  3. Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah sekitar 600-1200 mm per tahun.
  4. Tanaman cabai yang dibudidayakan di sawah sebaiknyaditanam pada akhir musim hujan, sedangkan di tegalan ditanam padamusim hujan.
  5. Tanah yang baik untuk pertanaman cabai adalah yang berstruktur remah atau gembur, subur, kaya akan bahan organik, pH tanah antara 6-7.

BUDIDAYA PENGOLAHAN LAHAN

Pengolahan tanah yang terdiri atas pembajakan (pencangkulan tanah), pembersihan gulma dan sisa-sisa tanaman, perataan permukaan tanah, serta pembuatan bedengan dan garitan-garitan. Persiapan lahan untuk lahan kering dan sawah diuraikan sebagai berikut

a. Lahan kering/tegalan

  1. Lahan dicangkul sedalam 30-40 cm sampai gembur.
  2. Dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 30 cm, dan jarak antar bedengan 30 cm.
  3. Dibuat garitan-garitan dan lubang-lubang tanam dengan jarak (50-60 cm) x (40-50 cm). Pada tiap bedengan terdapat 2 baris tanaman

b. Lahan sawah

  1. Tanah dicangkul sampai gembur kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1,5 m dan antara bedengan dibuat parit sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.
  2. Dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 50 cm x 40 cm.
  3. Bila pH tanah kurang dari 5,5 dilakukan pengapuran menggunakan Kaptan/Dolomit dengan dosis 1,5 ton/ha pada 3-4 minggu sebelum tanam (bersamaan dengan pengolahan tanah dengan cara disebar di permukaan tanah dan diaduk rata).

Penanaman

Pemilihan waktu tanam cabai merah yang tepat sangat penting, terutama dalam hubungannya dengan ketersediaan air, curah hujan dan gangguan hama dan penyakit.

A. Bibit

Benih bermutu tinggi untuk cabai merah harus mempunyai sifat- sifat sebagai berikut :

  1. berdaya kecambah tinggi (di atas 80%);
  2. mempunyai vigor yang baik (benih tumbuh serentak, cepat dan sehat);
  3. murni (tidak tercampur oleh varietas lain);
  4. bersih (tidak tercampur kotoran, biji-biji rumput/tanaman lain); dan
  5. sehat bebas OPT (organisme Pengganggu Tumbuhan)

B. Persemaian

  1. Sebelum disemai, benih direndam dahulu dalam air hangat (50°C) atau larutan Previcur N (1 cc/l) selama satu jam.
  2. Benih cabai merah disebar merata pada bedengan dan ditutup tipis dengan tanah halus, kemudian ditutupi lagi dengan daun pisang atau tripleks selama 2-3 h
  3. Bedengan persemaian diberi naungan/atap dari screen/kasa/plastik transparan kemudian persemaian ditutup dengan screen untuk menghindari serangan OPT.
  4. Setelah berumur 7-8 hari, bibit dipindahkan kedalam bumbunan daun pisang/pot plastik dengan media yang sama (tanah dan pupuk kandang steril).
  5. Penyiraman dilakukan setiap hari.
  6. Bibit siap ditanam di lapangan setelah berumur 4-5 minggu.

C. Sistem tanam

Sistem penanaman cabai merah bervariasi, tergantung pada jenis dan ketinggian tempat.

  1. Pada lahan sawah bertekstur berat (liat), sistem tanam 2-4 baris tanaman tiap bedengan lebih efisien.
  2. Pada lahan kering bertekstur sedang sampai ringan lebih cocok dengan sistem tanam 1 atau 2 baris tanaman tiap bedengan.
  3. Sebelum tanam, lahan yang telah dipersiapkan dibuat lubang-lubang dengan diameter 10 cm pada jarak tanam dan diberi pupuk kandang atau kompos.
  4. Bibit cabai merah yang sehat dan telah berumur 4-5 minggu atau yang sudah mempunyai 3-5 helai daun dalam bumbungan, diangkut ke lapangan.
  5. Selanjutnya bumbungan daun pisang dibuka lalu bibit ditanam pada lubang yang telah disiapkan, satu bibit per lubang tanaman.
  6. Jarak tanam cabai merah yang optimum berkisar antara (50-60 cm) x (40-50 cm).

Pemupukan

Kebutuhan pupuk untuk penanaman cabai merah bervariasi, tergantung pada kultivar, jenis lahan, lokasi, musim tanam, dan jenis pupuk yang digunakan

A. Penanaman cabai merah pada lahan kering di dataran tinggi/ medium (jenis Andisol/ Latosol)

  1. Pemupukan dasar terdiri atas pupuk kandang kuda (20 - 30 t/ ha) atau pupuk kandang ayam (15 - 20 t/ ha) dan pupuk SP-36 (300 kg/ha), yang dilakukan seminggu sebelum tanam.
  2. Pupuk kandang dihamparkan pada garitan-garitan atau lubang-lubang tanaman, di atasnya diletakkan pupuk SP- 36.
  3. Pupuk susulan terdiri atas pupuk Urea (200-300 kg/ha), ZA (300-400 kg/ha) dan KCl (250-300 kg/ha), yang diberikan 3 kali pada umur 3, 6 dan 9 minggu setelah tanam, masing- masing sepertiga dosis.
  4. Pupuk susulan disebar di sekitar lubang tanaman, kemudian ditutup dengan tanah.

atau bisa juga menggunakan kombinasi :

  1. Pupuk kandang 30 t/ha + pupuk NPK 750-1.000 kg/ha,
  2. Kompos pupuk kandang 30 t/ha + pupuk NPK 750 kg/ha.
  3. Kompos sisa-sisa tanaman 30 t/ha + pupuk NPK 500 kg/ha,
  4. Kompos campuran pupuk kandang dan sisa-sisa tanaman yang diperkaya 30 t/ha + pupuk NPK 250 kg/ha

B. Penanaman cabai merah pada lahan sawah di dataran rendah (jenis Aluvial)

  1. Seminggu sebelum tanam, pupuk kandang ayam (15-20 t/ ha) atau kompos (5-10 t/ ha) dan SP-36 (300-400 kg/ha) diberikan sebagai pupuk dasar.
  2. Pupuk susulan yang terdiri atas Urea (150-200 kg/ha), ZA (400-500 kg/ha) dan KCl (150-200 kg/ha) atau pupuk NPK 16-16-16 (1,0 t/ ha), diberikan 3 kali pada umur 0,1 dan 2 bulan setelah tanam masing-masing sepertiga dosis.

Penggunaan Mulsa

  1. Mulsa digunakan untuk menjaga kelembaban, kestabilan mikroba tanah, mengurangi pencucian unsur hara oleh hujan dan mengurangi serangan hama.
  2. Mulsa dapat berupa jerami setebal 5 cm (10 ton/ha) pada musim kemarau, yang diberikan dua minggu setelah tanam atau berupa mulsa plastik hitam perak untuk musim kemarau dan musim hujan.

Pemeliharaan

  1. Penyulaman dilakukan paling lambat 1–2 minggu setelah tanam untuk mengganti bibit yang mati atau sakit.
  2. Pengairan diberikan dengan cara dileb (digenangi) atau dengan disiram perlubang. 
  3. Penggemburan tanah atau pendangiran dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua atau pemupukan susulan.
  4. Pemberian ajir dilakukan untuk menopang berdirinya tanaman. Tunas air yang tumbuh di bawah cabang utama sebaiknya dipangkas.

Pengendalian Hama dan penyakit

Pengendalian Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT) dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:

  1. Penggunaan border 4–6 baris jagung.
  2. Penggunaan musuh alami (predator: Menochilus sexmaculatus).
  3. Penggunaan perangkap (kuning, methyl eugenol)
  4. Penggunaan pestisida nabati
  5. Penggunaan pestisida kimia sesuai kebutuhan dengan dosis yang sesuai petunjuk. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya

PANEN DAN PASCAPANEN

  1. Panen pertama dilakukan pada umur 60-75 hari setelah tanam, dengan interval ± 3-7 hari.
  2. Buah yang akan dijual segar sebaiknya dipanen matang. Buah yang dikirim untuk jarak jauh dipanen matang hijau.
  3. Buah yang akan dikeringkan dipanen setelah matang penuh.
  4. Sortasi dilakukan untuk memisahkan buah cabai merah yang sehat, bentuk normal dan baik dengan buah yang kualitasnya tidak baik.
  5. Pengemasan cabai untuk transportasi jarak jauh sebaiknya mengggunakan kemasan yang diberi lubang angin yang cukup atau menggunakan karung jala.
  6. Apabila hendak disimpan sebaiknya disimpan di tempat penyimpanan yang kering, sejuk dan cukup sirkulasi udara.



EmoticonEmoticon