Senin, 22 Juni 2020

Canda Nabi SAW Kepada Anak Kecil Yang Kehilangan Burung Kecilnya


Canda Nabi SAW Kepada Anak Kecil

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.islampos.com%2Frasulullah-juga-bercanda-dengan-anak-anak-18096%2F&psig=AOvVaw0dpgyvjgw4Chn91loiQUrj&ust=1592968412017000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCMDb3Iv8luoCFQAAAAAdAAAAABAG

Dari Anas Bin Malik r.a. ia menceritakan: “Sungguh, Nabi saw hidup berbaur bersama kami, sampai-sampai beliau pernah berseru kepada adikku yang masih kecil:
يَا أبَا عُمَيرٍ مَا ذَا فَعَلَ النُّغَيْرِ  
Hai Abu Umair apa yang dilakukan nughair”?
Canda Nabi SAW Kepada Anak Kecil Yang  Memiliki Mainan Burung Kecil

        Imam at-Tirmidzi r.a. (ulama yang memiliki kunyah [nama panggilan] Abu ‘Isa) menyimpulkan bahwa, berdasarkan hadist Nabi saw juga bercanda.

       Bahkan beliau memberikan kunyah kepada seorang anak yang masih kecil (dengan lafadz Abu, yang berarti ayah): yakni beliau berseru: “Hai Abu Umair “. Hadist ini pun menjadi dalil bolehnya memberi burung kepada anak kecil sebagai mainan; sebagaiamana pertanyaan Nabi saw kepada Abu Umair: “Hai Abu Umair, Apa yang dilakukan nughair”? beliau bertanya demikian karena nughair yang merupakan mainan Abu Umair telah mati, dan itu membuatnya sedih. Lalu Nabi saw mencandainya dengan mengatakan: “Hai Abu Uamir, sedang apakah nughair?”.

            Al-Munawi r.a. menerangkan: “Nabi saw bertanya demikian karena Abu Umair sedang bersedih akibat kematian nughair yang menjadi mainannya. Karena itulah, beliau bercanda untuk menghibur anak kecil ini, seperti yang biasa dilakukan terhadapa anak kecil yang kehilangan mainannya. Alhasil, Abu Umair terhibur dengan ucapan tersebut. Canda Nabi itu juga membuat Abu Umair kecil amat senang dan bangga. Terbukti perkatannya kepada keluarganya: `Rasulullah saw telah berbicara dan bertanya kepadaku.’ Karena begitu senangnya, dia tidak ingat dengan kesedihannya tadi. Hiburan itu ebnar-benar telah menghilangkan dukanya. Anda pun dapat melihat bahwasannya cara demikian lebih menyentuh perasaan yang masih bersih. Ada yang mengatakan, anak kecil ini sangat pintar dan cerdas. Oleh sebab itu Nabi saw mengajukan pertanyaan kepadanya.”

            An-Nawawi r.a. memaparkan: “hadist ini menyimpan segudang hikmah, diantaranya:
  • 1.      Boleh memberikan kunyah kepada seseorang yang belum di karuniai anak.
  • 2.      Oleh memeberikan kunyah kepada anak kecil, dan ini bukan sebuah kedustaan.
  • 3.      Boleh bercanda selama tidak menjadi dosa.
  • 4.      Boleh melafalakan nama sesuatu dengan bentuk tasghir yang menyiratkan makna “kecil”
  • 5.      Anak kecil boleh menjadikan burung sebagai mainannya, dan hendaklah walinya memberi keleluasaan kepadanya untuk melakukan hal itu.
  • 6.      Boleh mengucapkan perkataan yang baik dengan sajak selama tidak berlebih-lebihan.
  • 7.      Anjuran bercanda kepada anak kecil dan bergaul akrab dengan mereka.

Selain hikmah-hikmah tersebut, hadist ini menjelaskan kemulyaan  akhlak, kesantunan pribadi, serta sikap tawadhu’ (kerendahan hati) Nabi saw.
            Ali al-Qari r.a. menyatakan: “hal ini mengandung anjuran untuk bercanda dengan anak kecil guna menghibur dan menyenangkan hatinya.”
            Jadi, apabila tujuan canda adalah menyenangkan dan menghibur hati, membuat suasana lebih akrab, serta menghilangkan kesedihan, maka hukumnya adalah mustahab (yang dianjurkan).

·         Pustaka imam asy-syafi’i
·         As- saiyid bin Ahmad Hamudah


EmoticonEmoticon