Gambaran dan Potret Canda Nabi Muhammad SAW Dengan Para Sahabat

Posted on

Gambaran dan Potret Canda Nabi Dengan Para Sahabat.


Tidak mungkin memisahkan sosok Nabi saw dari cermin kehidupan kita. Konsep canda beliau harus menjadi rujukan kita dalam bercanda. Kejujuran dan nilai-nilai edukasi selalu ditemui dari dalamnya. Rihatkan sejenak pikiran kita untuk menyimak beberpa cuplikan canda beliau SAW berikut ini.


Gambaran Canda Nabi SAW

            Dari Abu Hurairah r.a., ia menuturkan bahwasannya para sahabat pernah menanyakan:
يَارَسُوْلَ الله إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا. قَالَ: إِنِّي لاَ أَقُوْلُ إلاَّ حَقًّا))
Wahai Rasulullah, (mengapa) engkau bercanda kepada kami?” beliau pun menjawab:”Sesungguhnya yang aku katakan tidak alain adalah kebenaran.”

            Imam al-Khathabi r.a. menerangkan:”Sejumlah ulama’ salaf pernah ditanya tentang canda Rasulullah SAW. Mereka menjawab bahwa beliau adalah insan (manusia) yang berwibawa. Beliau membuat hati manusia senang dengan candanya.”

            Terdapat hadist marfu’ yang kandungannya menyiratkan makna sebaliknya, yaitu hadist Ibnu Abbas r.a.:
((لاَتُمَارِأخَاكَ وَلاَتُمَازِحُهُ.))
janganlah berdebat dengan saudaramu dan jangan pula mencandainya.”
Dan sungguh, kedua hadist tersebut tidak bertentangan. Al-Hafidz Ibnu Hajar r.a. menjelaskan:”Canda yang di larang adalah canda yang dilakukan secara berlebihan atau terlalu sering. Sebab, canda seperti itu dapat membuat pelakunya lalai dari mengingat Allah dan terlena dari memikirkan berbagai hal penting di dalam agama. Canda yang demikian ini kerap kali mengeraskan hati, menyakiti perasaan dan menimbulkan kedengkian orang lain, serta menghilangkan kewibawaan dan kehormatan diri.

            Adapun canda yang bersih dari semua itu, hukumnya adalah mubah. Bahkan, jika ia mengandung maslahat, seperti mampu menyenangkan hati orang yang diajak berbicara dan mengakrabkan hubungan, maka hukumnya adalah mustahab.”

            Al-Munawi r.a. menegaskan:”Dalam salah satu sabdanya, Nabi menyatakan: “sesungguhnya aku juga bercanda”, dan canda yang dimaksudkan ialah dengan perkataan dan perbuatan. Anggapan bahwa canda beliau hanya disampaiakn secara verbal (perkataan) tidaklah berdasar. Dalam kesempatan lainnya, Nabi SAW bersabda:”sesungguhnya yang aku katakana tidak lain adalah kebenaran”. Hal itu dikarenakan beliau ma’shum (terhindar dari kesalahan) dalam perkataan dan perbuatan.

            Coba kalian cermati cara Nabi SAW bercanda dan bergurau kepada para sahabat r.a., yaitu menunjukkan ketinggian akhlak dan kerendahan hati beliau. Hal ini karena beliau mau bercanda kepada anak kecil, orang dewasa, orang kaya, dan orang miskin; sebagaimana penjelasan yang lain yang akan tersampaiakn pada bab selanjutnya di lamat blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *