Selasa, 30 Maret 2021

FAKTA SEJARAH HIDROPONIK DUNIA

SEJARAH HIRDOPONIK DUNIA

Dalam catatan sejarah cara bertanam hidroponik sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu (± 2600 tahun yang lalu) dan hidroponik merupakan suatu teknik kuno. Taman gantung (Hanging Gardens) Babylonadalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. 

Taman ini merupakan pengaplikasikan yang pertama dari teknik hidroponik yg tercatat dalam sejarah. 

Berdasarkan sejarah selama ini diyakini bahwa taman gantung Babylon dibangun oleh Raja Nebukadnezzar. 

Hasil penelitian Dr. Stephanie Dalley dan Somerville College yang merupakan bagian dari Oxford University, mereka membuktikan bahwa taman megah itu memang ada sekaligus membantah bahwa taman gantung itu dibuat oleh Raja Nebukadnezzar, tetapi taman itu telah dibuat pada awal abad ketujuh sebelum Masehi di kawasan Niniwe, Irak, sekitar 300 mil dari Babylonia pada saat ituoleh orang Suria (Asyiria) di Mesopotamia Utara, yang kini merupakan wilayah Irak.

Pembangunan taman itu merupakan perintah dari Raja Suria saat itu bernama Sennacherib

 

Taman gantung (Hanging Gardens)

Beberapa taman lainnya seperti ‘Taman apung (Floating Gardens) Aztecs’ atau dikenal juga chinampas adalah contoh lainnya penggunaan teknik pertanian hidroponik. 

Chinampas menggunakan sistem budidaya perairan yang paling   efisien saat ini.Chinampas menggunakan rakit yang terbuat dari bambu seperti tanaman liana yang mengambang di danau.

Rakit tersebut ditutupi dengan lumpur yang berasal dari danau dan mengandung bahan organik yang tinggi sebagai penyedia nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Akar dapat tumbuh sampai kebawah rakit dan dapat bersentuhan langsung dengan air

Taman Apung (Floating Garden)

Keberadaan taman gantung Babylon dan taman apung Aztecs atau yang dikenal juga chinampas kesemuanya merupakan pengaplikasian teknik pertanian hidroponik. Sistem pertanian hidroponik mulai terungkap kembali melalui penemuan-penemuan yang dilakukan oleh para ahli, sebagian pendapat menyatakan sistem pertanian hidroponik di mulai pada 1600, hal ini berdasarkan hasil eksperimen yang telah dilakukan oleh Jan van Helmont yang berkebangsaan Belgia tentang berkebun dengan air.

Informasi lain menyebutkan bahwapertanian hidroponik dimulai dengan adanya kegiatan membudidayakan tanaman darat tanpa tanah yang ditulis pada buku “Sylva sylvarum”oleh Francis Baconyang dibuat pada tahun 1627. Penelitian yang mendukung sistem hidroponik terus dilakukan,

pada tahun 1699 John Woodward melakukan percobaan menanam spearmint dengan menggunakan media air

Penanaman Pada Media Air

Pada tahun 1804 Nicolas De Saussure mempublikasikan hasil penelitian bahwa tanaman menyerap mineral yang diperoleh dari air, tanah dan udara. 

Pernyataan ini dibenarkan oleh Jean Baptiste Boussingault pada tahun 1851. Penemuan terbaru pada tahun 1860 oleh seorang ilmuwan yang berkebangsaan Jerman bernama Julius von Sachs dia berhasil mempublikasikan sembilan unsur penting yang dibutuhkan tanaman dan menjadi cikal bakal “nutriculture”. Pada tahun 1861, Wilhelm Knop mendapat gelar ‘The Father of Water Culture’. Semua percobaan tentang teknik pertanian tanpa tanah (soilless) yang dilakukan sebelum tahun 1930 sifatnya masih untuk keperluan riset laboratorium.

Awal tahun 1930-an, Dr William Frederick Gericke dari University of California di Berkeley seorang agronomis mulai mempromosikan secara terbuka tentang “Solution culture” yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian.

Pada mulanya dia menyebutnya dengan istilah “aquaculture” (atau di Indonesia disebut budidaya perairan), namun kemudian mengetahui aquaculture telah diterapkan pada budidaya hewan air. 

Gericke menciptakan sensasi dengan menumbuhkan tomat yang menjalar setinggi dua puluh lima kaki, di halaman belakang rumahnya dengan larutan nutrien mineral selain tanah. 

Gericke menciptakan istilah “hidroponik” pada tahun 1936 (meskipun ia menegaskan bahwa istilah ini disarankan oleh WA Setchell, dari University of California) untuk budidaya tanaman pada air. 

Istilah “hydroponic” yang digunakan berasal dari kata Yunani, yaitu “hydro”yang berarti air dan “ponos” yang artinya bekerja dengan air atau bercocok tanam dengan air. Dr.William Frederick Gericke adalah orang pertama yang melakukan percobaan hidroponik berskala besar atau komersial dengan menanam tanaman tomat, selada dan sayuran lainnya, serta tanaman umbi-umbiansepertibit, lobak, wortel dan kentang. 

Sistem ini terus dikembangkan pada tanaman buah-buahan dan hias.

Pada laporan Gericke, dia mengklaim bahwa hidroponik akan merevolusi pertanian tanaman dan memicu sejumlah besar permintaan informasi lebih lanjut. Pengajuan Gericke ditolak oleh pihak universitas tentang penggunaan greenhouse

dikampusnya untuk eksperimen karena skeptisme orang-orang administrasi kampus. dan ketika pihak Universitas berusaha memaksa dia untuk membeberkan resep nutrisi pertama yang dikembangkan di rumah, ia meminta tempat untuk rumah kaca dan saatnya untuk memperbaikinya menggunakan fasilitas penelitian yang sesuai. 

Sementara akhirnya ia diberikan tempat untuk greenhouse, Pihak Universitas menugaskan Hoagland dan Arnon untuk menyusun ulang formula Gericke, pada tahun 1940, setelah meninggalkan jabatan akademik di iklim yang tidak menguntungkan secara politik, dia menerbitkan buku berjudul “Complete Guide to Soil less Gardening”.

Aplikasi komersial pertama dari teknik ini terjadi selama Perang Dunia II, antara tahun 1939 dan 1945. Sejarah lain tentang hidroponik adalah pada tahun 1945 Jepang dikalahkan oleh sekutu dengan cara dibom sehingga tanahnya menjadi tandus sehingga terjadi panas dan dingin yang berlebihan. 

Didorong oleh kebutuhan untuk menyediakan sayuran untuk pasukan di tempat-tempat tanah tandus atau gersang, seperti panas yang berlebihan (Guadalupe) atau daerah dingin yang berlebihan (Greenland), pengembangan sistem hidroponik memberikan harapan kepada masyarakat Jepang dan sejak itu Jepang gencar mengembangkan sistem hidroponik. 

Selain itu, negara padang pasir yang tandusseperti Bahrain, Irak, Iran dan negara lainnya juga melakukan hal yang sama untuk pertanian mereka.

Di era tahun 1960-1970 an, para peneliti hortikultura di negara-negara maju memfokuskan pencarian media alternatif (substrat) yang dapat menggantikan tanah. Dasar pencarian ini dikarenakan banyak persoalan yang muncul pada media tanah seperti persoalan air, nutrisi (kurangnya komponen-komponen tertentu yang penting untuk beberapa tanaman) dan meningkatkan persoalan hama penyakit tanaman.

Di Amerika Latin, kemungkinan mengadaptasi initeknik untuk memenuhi berbagai kebutuhan penduduk yang meningkat dari hari kehari, dan penerapannya memacu kreativitas orang dari berbagai usia mencoba untuk mencapai yang lebih besar dan hasil yang lebih baik.


EmoticonEmoticon